Interview: Prof. Armida Alisjahbana tentang Agenda Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)

English version via CEDS UNPAD.

Pada tanggal 12 Februari 2016, Dewan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa Bangsa (the United Nations Economic and Social Council/UN ECOSOC) mengumumkan anggota tim penasehat independen PBB untuk mendukung pelaksanaan Agenda Pembangunan Global (Sustainable Development Goals/SDGs). Salah satu anggotanya adalah Prof. Armida Alisjahbana, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran yang juga merupakan mantan Direktur CEDS UNPAD.

Yangki Suara, peneliti CEDS UNPAD, berkesempatan untuk mewawancarai beliau di kantornya yang berlokasi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran, Jalan Cimandiri No. 6-8, Bandung, Jawa Barat. Berikut petikan wawancara Yangki dengan Prof. Armida.

Yangki Suara (YS): Bisakah Ibu menjelaskan apa itu tim penasehat independen Dewan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa (independent team of advisor to the United Nations Economic and Social Council/UN ECOSOC) dan apa tugasnya?

Armida Alisjahbana (AA): Tim penasehat independen tingkat tinggi (independent team advisor of high level expert) ini beranggotakan 15 orang yang berasal dari berbagai negara di dunia. Tim independen ini terdiri dari mantan presiden/perdana menteri, mantan menteri, akademisi, dan perwakilan dari organisasi masyarakat sipil/LSM (Civil Society Organisation/CSO). Tim ini dipimpin oleh dua orang co-chairs, Juan Somavia (Chile), mantan Direktur Jenderal Organisasi Buruh Internasional (International Labour Organization/ILO) dan Klaus Töpfer, mantan menteri lingkungan Jerman. Tugas utama dari tim penasehat independen ini adalah memberikan rekomendasi untuk mereposisi sistem yang ada di PBB dalam rangka mendukung pelaksanaan Agenda Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).

YS: Kenapa PBB harus direposisi dalam rangka mendukung implementasi SDGs?

AA: Ada beberapa alasan kenapa PBB harus direposisi dalam rangka mendukung pelaksanaan SDGs. Pertama, dari sisi SDGs dan struktur PBB itu sendiri. Kita tahu bahwa SDGs adalah tujuan pembangunan global yang sangat ambisius dengan 17 goals dan 169 target dalam jangka waktu hanya 15 tahun. Beberapa diantaranya adalah pengentasan kemiskinan dan kelaparan, pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan dan kesehatan, pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, melawan perubahan iklim, melindungi laut dan hutan dari kerusakan, menciptakan perdamaian dan keamanan, serta kerjasama dalam mencapai target SDGs.

Kemudian jika kita bandingkan struktur PBB di tahun 1980an dan saat ini tentu saat ini strukturnya jauh lebih complicated dan juga semakin birokratis. Reposisi diperlukan untuk membuat PBB bisa mengakomodir perubahan yang ada tetapi dengan tetap menjaga good governance (tata kelola, pertanggung jawaban).

Kedua, disamping SDGs merupakan tujuan pembangunan global yang sangat ambius, juga terjadi perubahan pada konteks konstelasi global. Dahulu kita mendengar istilah negara maju dan negara berkembang. Tetapi sekarang, disamping negara maju dan negara berkembang juga ada emerging countries, dan least developed countries. Perubahan konstelasi global ini juga merubah pola pembiayaan pembangunan di dunia. Dimana pada saat ini sumber pendanaan pembangunan tidak lagi hanya berasal dari negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang, tetapi juga bersumber dari emerging countries (seperti China dan India), kolaborasi antara pemerintah dan swasta melalui public-private partnership, dan kontribusi dari pihak swasta dan masyarakat adalah bagian yang tak terpisahkan dalam proses pembiayaan pembangunan.

Disamping itu, dalam beberapa tahun terakhir beberapa negara di dunia terus dilanda konflik berkepanjangan. Sistem PBB yang baru diharapkan dapat menempatkan penanganan konflik dan pembangunan pasca-konflik menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Singkat kata PBB harus direposisi dalam rangka mencapai target yang tertuang di dalam SDGs.

YS: Kapan rekomendasi dari tim independen ini akan dibahas oleh PBB?

AA: Rekomendasi dari tim ini akan menjadi bahan yang akan dibahas pada Sidang Umum PBB (UN General Assembly) pada bulan September 2016. Pada sidang tersebut, UN akan menyampaikan rekomendasi dari tim independen ini untuk kemudian dibahas oleh negara-negara anggota PBB. Kesepakatan dari sidang ini lah yang akan menjadi dasar untuk mereposisi PBB.

YS: Ibu juga sempat menjadi co-chair Global Partnership pada tahun 2013-2014. Bisa ibu jelaskan tentang konsep Global Partnership yang diusung pada acara tersebut serta posisinya di dalam SDGs?

AA: Global Partnership mencoba mencari model baru karena perubahan tatanan global. Sebagai salah satu co-chair di acara tersebut, berangkat dari sesuatu yang riil, Indonesia mengusung knowledge sharing melalui triangular cooperation (north-south/negara maju-negara berkembang, south-south/negara berkembang-negara berkembang, yang difasilitasi baik oleh lembaga multilateral seperti Bank Dunia ataupun negara maju seperti Australia). Knowledge sharing diharapkan menjadi tempat dimana negara-negara berkembang yang berhasil menjadi emerging countries, termasuk juga Indonesia yang berhasil dalam beberapa hal, bisa berbagi pengalaman nya kepada negara berkembang lainnya dengan bantuan pendanaan dari institusi multilateral ataupun negara maju.

Co-chair dari Nigeria (Ms. Ngozi Okonjo-Iweala, Minister of Finance) mengusulkan mobilisasi sumberdaya domestik (domestic resources mobilisation). Alasannya sangat sederhana, negara berkembang tidak akan bisa maju tanpa adanya reformasi pada sumberdaya domestiknya, contohnya reformasi perpajakan. Dengan adanya reformasi tersebut, diharapkan pendapatan negara berkembang bisa meningkat sehingga mengurangi ketergantungan akan bantuan asing dalam membangun negaranya. Kemudian co-chair dari Inggris (Ms. Justine Greening, Secretary of State for International Development) mengusulkan pentingnya melibatkan private sector (dunia usaha) dalam rangka memajukan negara, hal ini berkaca dari pengalaman Inggris. Terkait dengan posisi Global Partnership di agenda pembangunan global pasca 2015, Global Partnership sepakat bahwa tidak akan mengusung agenda global tersendiri, tetapi lebih kepada partnershipnya sendiri, saat ini Global Partnership masuk ke dalam target SDGs nomor 17.

YS: Menurut Ibu, apa tantangan terbesar dalam mengimplementasikan SDGs di negara berkembang?

AA: Ada banyak tantangan terutama untuk implementasi SDGs di negara berkembang. Pertama, data. Ketersediaan data merupakan salah satu kunci untuk memonitor pencapaian target dan indikator SDGs. Indonesia sangat beruntung memiliki Badan Pusat Statistik (BPS), data dari BPS ini sangat bisa diandalkan dalam mengukur progres Indonesia.

Kedua, substansi dari agenda pembangunan itu sendiri. Masih banyak target dan indikator dari Agenda Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals/MGDs) yang belum dapat dipenuhi oleh negara-negara berkembang, sementara itu, SDGs datang dengan target dan indikator yang jauh lebih banyak dari MDGs. Ini tentunya adalah dua pekerjaan yang sangat besar yang harus dapat diatasi oleh banyak negara berkembang di dunia.

YS: Berangkat dari pengalaman ibu memimpin Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) pada periode 2009-2014, yang juga merupakan sekretariat nasional untuk MDGs, apa harapan ibu ke depannya terkait dengan implementasi SDGs di Indonesia?

AA: Berdasarkan pengalaman saya lima tahun di pemerintahan (sebagai Menteri Perencanaan Pembangunan/Kepala BAPPENAS), pemerintah perlu berkolaborasi dari berbagai pihak termasuk diantaranya akademisi untuk mencapai target MDGs dan sekarang SDGs. Sebagai akademisi, saya tentunya berharap pemerintah memberikan ruang sehingga perguruan tinggi dapat berperan aktif dalam implementasi SDGs di Indonesia. Kami sendiri tidak akan berdiam diri menunggu panggilan tersebut, dalam waktu dekat, Universitas Padjadjaran (UNPAD) akan segera meresmikan pendirian Pusat Kajian SDGs (SDGs Center) yang akan saya pimpin bersama dengan Dr. Arief Anshory Yusuf (Fakultas Ekonomi dan Bisnis), Dr. Suzy Anna (Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan) dan Dr. Ade Kadarisman (Fakultas Ilmu Komunikasi). Harapannya semoga SDGs Center ini bisa berkontribusi aktif dalam implementasi SDGs di Indonesia melalui berbagai kegiatan yang akan kami laksanakan, diantaranya; kajian akademik, kegiatan training, seminar rutin dan workshop dengan mengundang para ahli terkait pembangunan berkelanjutan dari berbagai disiplin ilmu.

Photo credit: MCA-Indonesia.

An Inverview with Prof. Armida Alisjahbana on Sustainable Development Goals

On February 12, 2016, The United Nations Economic and Social Council (ECOSOC) Bureau announced the establishment of an Independent Team of Advisors to support Sustainable Development Goals (SDGs). Prof. Armida Alisjahbana, a professor from Faculty of Economics and Business, Universitas Padjadjaran and also a former director of CEDS UNPAD is appointed as one of its members.

She previously served as Minister of National Development Planning / Head of the National Development Planning Agency (BAPPENAS) in Indonesia (2009-2014). She has worked extensively as a researcher, consultant, and expert for international organizations, such as the UNU Institute for Advanced Study in Tokyo, the World Bank, ADB, AusAID, the European Commission, and ILO. She also held the position of the co-chair of the Global Partnership (2013-2014) alongside Mrs. Ngozi Okonjo-Iweala (Minister of Finance, Nigeria) and Ms. Justine Greening (Secretary of State for International Development, UK).

Read my full interview with Prof. Armida Alisjahbana on CEDS UNPAD.

Photo credit: MCA-Indonesia.

CSD 2015 – Dr Bappah Habibu Yaya talks to Yangki Suara

Dr. Bappah Habibu Yaya is a fellow of the African Leadership Centre at King’s College, London. He holds a PhD from the Ahmadu Bello University, Zaria, Nigeria. His research focuses on development issues in West Africa.

Yangki Suara is an MSc student at King’s College London on Emerging Economies and Inclusive Development. He received his BA in Economics from Faculty of Economics, Padjadjaran University. He previously worked at the Center for Economics and Development Studies, at Padjadjaran University (CEDS Unpad) as a researcher. Prior to this conference, he also organized the 23rd Pacific Regional Conference of the Regional Science Association International (PRSCO 2013) in Indonesia. His interest include Environmental Economics, International Development, and Poverty and Inequality especially in Emerging Countries.

Produced by Charlie de Rivaz for CSD 2015. For more information visit CSD 2015 Official Website.

CSD 2015 – Jawed Nader (British and Irish Agencies Afghanistan Group) talks to Yangki Suara

Jawed Nader is the Director of the British and Irish Agencies Afghanistan Group. He has worked as Programme Adviser and Director of the Afghanistan Land Authority in the Afghan Ministry of Agriculture (2009- 2011), and as Advocacy Manager with the Afghan Civil Society Forum (2002-2006). He has also worked as a consultant on Afghanistan for various agencies and institutions, including Heinrich Boll Stiftung, the University of York and Human Rights Watch.

Yangki Suara is an MSc student at King’s College London on Emerging Economies and Inclusive Development. He received his BA in Economics from Faculty of Economics, Padjadjaran University. He previously worked at the Center for Economics and Development Studies, at Padjadjaran University (CEDS Unpad) as a researcher. Prior to this conference, he also organized the 23rd Pacific Regional Conference of the Regional Science Association International (PRSCO 2013) in Indonesia. His interest include Environmental Economics, International Development, and Poverty and Inequality especially in Emerging Countries.

Produced by Charlie de Rivaz for CSD 2015. For more information visit CSD 2015 Official Website.

Twenty Six

Twenty six, it means I have spent 15 years away from my parents. I first moved from home when I was 11 years old for my junior high school in Padang Panjang, and then Bekasi for my senior high school and finally Bandung for my undergraduate before I had the opportunity to travel to 16 countries around the world.

Now, I’m living in London pursuing my master degree on Emerging Economies and Inclusive Development at King’s International Development Institute, King’s College London. I’m grateful for what I have achieved so far, and I would like to accomplish more in the upcoming months and years.

Last year I started with a lot of goals, I have completed some of them. I cook my own food (London is a good reason to cook), visited parks and I love it (there are many parks in London), I’m running regularly across Regent’s Canal to Camden Market, Primrose Hill and sometimes to Regent’s Parks. However, I didn’t travel around Europe over the last year, but I had time to explore north west of England and Yorkshire.

Here’s what I like to focus on my twenty six:

  • Make it 17, next month for Scotland
  • Completed my master degree at King’s College London
  • Reading the Economist, BBC News and Project Syndicate regularly
  • Pursuing my career in the field of development and climate change
  • Learn how to ride inline skates, I have bought a pair of inline skates shoes
  • Traveling with Shilva to European Mainland (Austria, Germany, Belgium, France, Italia, Greece, Spain)
  • Travel to Latin America for the first time and visit friends this region.
  • Harvesting olive oil in Crete, Greece
  • Redesign my website (I need a fresh new one)
  • Track my things to do with my weekly ‘Get It Done’ timetable
  • Learn about life hack (e.g. how to do fruit crafting, etc.)
  • Take more photos and upload it to Instagram
  • Eliminate ‘kind of’ and ‘a bit’ from my daily conversation
  • Exercise and running at least twice a week, plus eat more to gain more weight
  • Take time to read books before I sleep
  • Spent time to live like locals (live with host family somewhere in the countryside once every three months).

Previous year: 25

My First Semester at King’s College London

“Whether it’s the best of times or the worst of times, it’s the only time we’ve got”.
Art Buchwald

Time flies so fast, and it’s hard to believe that my first semester is over. The first quarter of my second semester has started with a bunch of reading materials, and in an upcoming month I have to submit three formative essays. Last year, I created this slide as a recap for my first semester of pursuing an MSc in Emerging Economies and Inclusive Development at King’s International Development Institute (King’s IDI), King’s College London. I divided it in two sections; academic, and non-academic.

If you want to see what is a typical day for King’s student, you can watch the following film project by King’s students Kate, Jack, Jess and Tom following fellow King’s students Barry, Katie and Chris on an average day as a King’s student. I bet this is a typical day for undergraduate students 🙂

My Top 5 London Apps

It’s been 4 months since I moved to London and I’ve learned a few facts: in my first two week I was living in South Kensington and it took 60 minutes for me to ride a bike home from King’s Strand Campus because I was lost and got no internet connection on my phone, normally it should take only 30 minutes; eat-in is always most expensive than a simple take away for the same menu(s); riding a bike from my home to King’s Strand Campus is faster and healthier than taking a red double-decker bus (20 minutes vs 35 to 40 minutes); bring your own bag to grocery store if you don’t want to spend some pennies for a grocery bag.

As a student in London, here is my top 5 apps.

1. Mendeley (in my Laptop, and iPad)

I used Mendeley to organised my reading materials. I sync it between my Mendeley Desktop (for laptop) and Mendeley Apps for iPad so I can read those reading materials when I am on a bus or traveling around. When it comes to writing an essay/paper, Mendeley helps me to cite as I write with its automatic bibliography and citation feature.

Mendeley

2. King’s Mobile (in my iPad, and Android)

As a King’s student, King’s Mobile provides valuable information such as upcoming courses timetable, news, student supports, campus maps, people search, and library search. You only need your King’s Internet ID and have fun. My favourite feature is Student Computing Free/Busy – this feature will show how many free student computers there are near you, from within the Campus maps.

King's

3. Citymapper (in my iPad, and Android)

This must be the coolest apps for anyone who want to enjoy London and don’t want to get lost or to bother asking someone. Citymapper is fantastic: it includes live tube information; live bus information; live Boris (Barclays) bike docking station information (available and empty dock); walking routes and how much calories you will burn if you prefer to walk; total cost if you prefer to take a bus or tube or combination of both.

My favourite feature is Get Me Home. With only a push on my iPad, Citymapper will tell me the fastest way to get home (you need to set up Home before). FYI, you can switch Citymapper for other cities; New York, Paris, Berlin, Washington DC, Madrid, Boston, Barcelona, SF Bay Area, Chicago, Milan, Rome, and México DF.

citymapper citymapper2

4. AroundMe (in my iPad)

Don’t know where to go? Just hit AroundMe apps. It includes ATM, bars, cinema, coffee bar, restaurants, theatre, supermarkets, weather and you name it. My favourite section is coffee bar.

AroundMe

5. Line (in my Android, and Laptop)

lineThe last one is not really about apps for London, but about someone who are currently in a long distance relationship (LDR). Line help me to get connected with my fiance, friends, and families. My favourite Line sticker is Brown and Cony.

Banyak Jalan Menuju “Roma”, Jalan Mana yang Kita Pilih?

Apa yang akan kamu lakukan jika;

Bermimpi melanjutkan kuliah ke jenjang Master / PhD. Selama tiga tahun, kamu telah mendapatkan tujuh surat tanda terima (Letter of Acceptance – LoA) dari 7 kampus di Eropa. Akan tetapi beasiswa masih belum didapat untuk menebus LoA tersebut. Akankah kamu bertahan mencari beasiswa atau mengubur mimpi itu?

Hidup adalah Pilihan

Pilihan melanjutkan kuliah ke jenjang Master dan PhD bagi saya adalah sebuah keharusan, bukan hal yang mudah ketika kita memilih sesuatu. Tetapi yang selalu ditekankan oleh ayah saya adalah

“Bagian dari menjadi dewasa itu adalah menentukan sebuah pilihan dan menerima semua konsekuensi atas pilihan tersebut”

Pesan ini sama seperti yang disebutkan oleh Samuel L. Jackson dalam film Coach Carter yang saya yakini ayah saya belum pernah menonton film ini sama sekali.

“Part of growing up is making your own decisions and living with the consequences.”

Saya beruntung mempunyai orang tua yang sama sekali membebaskan saya untuk menentukan pilihan hidup saya dengan syarat bertanggung jawab atas semua pilihan dan konsekuensinya. Disaat kebanyakan teman-teman saya berkarir di sektor swasta (baik perbankan, property, pasar saham) dan juga yang berkarir di pemerintahan (BKPM, Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dsb.). Selepas lulus kuliah, saya mendapatkan tawaran untuk bekerja di Center for Economics and Development Studies (CEDS) oleh Pak Arief Anshory Yusuf, beliau adalah dosen pembimbing saya pada S1 dan juga menjabat sebagai Direktur CEDS.

Tawaran ini adalah sebuah kesempatan besar untuk saya untuk terus meningkatkan kemampuan saya di bidang penelitian yang akan menjadi salah satu modal saya untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang Master dan PhD.

Pentingnya Prinsip Hidup

Salah satu prinsip yang saya pegang dalam menentukan sekolah/kampus untuk pendidikan saya adalah

“Tidak akan pernah mundur selangkahpun dari sekolah/kampus saat ini, harus terus maju baik dari sisi jarak dan juga peringkat sekolah/kampus”

Secara gamblang ini artinya sekolah/kampus harus membuat saya berjalan maju, bukan mundur meskipun hanya selangkah baik dari jarak maupun peringkat. Sebagai contoh selepas SMA di International Islamic Boarding School Republic of Indonesia (SMA IIBS RI) di Lippo Cikarang, maka untuk S1 pilihan saya harus di daerah yang berada di bagian timur SMA IIBS RI, artinya Universitas Indonesia (UI) bukan pilihan saya.

Saya pernah berdebat dengan Safaruddin Dt. Bandaro Rajo (kakak dari Mama (Mamak)) saya tentang S2. Dia mengatakan sebaiknya saya mengurungkan niat untuk kuliah S2 di luar negeri, lebih baik di UI saja, kan toh UI adalah salah satu kampus terbaik di Indonesia. Kuliah di Luar Negeri disimpan untuk S3 saja. Tetapi saya tetap pada prinsip saya bahwa saya tidak boleh kuliah di UI karena Universitas Padjadjaran (UNPAD) lebih jauh dari UI. Bagi saya, kuliah S2 / S3 di luar negeri hanyalah satu pilihan saya.

Tiga Tahun, Tujuh LoA di Tujuh Kampus di Eropa

Semenjak bekerja di CEDS pada tahun 2011 saya langsung apply beasiswa dan juga kampus untuk jenjang S2. Pengalaman saya pernah tinggal dan berkeliling Benua Eropa selama sebulan (ketika acara konferensi UNFCCC tahun 2009) dan juga sempat berkunjung ke Amerika Serikat pada tahun 2008 (program Harvard National Model United Nations – HNMUN) memudahkan saya untuk menentukan pilihan bahwa Benua Eropa menjadi pilihan utama saya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Master.

2011-2013 Seven Universities in Europe

2011-2012

Mendapatkan Letter of Acceptance (LoA) dari University College London (UCL) untuk kuliah tahun 2012, salah satu kampus terbaik di dunia dan selalu masuk 10 besar dunia dan 5 besar di United Kingdom. Beasiswa Erasmus Mundus untuk program International Masters in Economy, State and Society (IMESS) belum saya dapatkan karena saya belum memiliki sertifikat Bahasa Inggris. Karena secara administratif saya sudah lolos, maka LoA bisa didefer ke tahun 2013.

2013

Mendapatkan Letter of Acceptance (LoA) dari 6 kampus di Eropa;

  1. Environmental Sustainability at University of Edinburgh, Scotland, United Kingdom
  2. Environment and International Development at University of East Anglia (UEA), United Kingdom
  3. Agricultural Economics and Management at Swedish University of Agricultural Science (SLU), Sweden
  4. Climate Studies at Wageningen University and Research Centre, Netherlands
  5. Agricultural Economics at Universität Hohenheim (University of Hohenheim), Germany
  6. International and Development Economics at Hochschule für Technik und Wirtschaft Berlin (HTW Berlin), Germany

Pada akhirnya saya memutuskan untuk untuk mengambil University of Edinburgh pada program Environmental Sustainability. Persiapan yang sangat mepet membuat saya gagal mendapatkan visa tepat waktu sehingga kampus juga menyarankan saya untuk defer ke tahun akademik 2014.

2014

Beasiswa yang saya dapatkan memungkinkan saya untuk pindah kampus dan pada akhirnya di tahun 2014 ini saya memutuskan untuk pindah dari University of Edinburgh ke King’s College London (KCL). Baca “Kenapa saya memilih King’s College London” disini.

Banyak Jalan Menuju Roma (All Roads Lead to Rome)

Apakah kita masih ingat dengan pepatah kuno tersebut? Jika kita coba gali lebih dalam, pada kenyataannya memang “Banyak Jalan Menuju Roma”. Yang suka backpacker mungkin akan memilih berjalan-jalan ke beberapa negara terlebih dahulu sebelum akhirnya sampai di Roma. Bagi para business traveller, mungkin sebaiknya langsung terbang menuju Roma. Jika yang suka berkelana dengan motor atau mobil sepertinya akan memilih jalur darat sehingga lebih merasakan adrenalin ketika akhirnya sampai di Roma.

Jika kembali ke pertanyaan pada awal pada tulisan ini, saya meyakini bahwa untuk mencapai “Roma” saya, saya harus mendapatkan gelar Master dan atau PhD. Bekerja pada CEDS adalah jalan yang saya pilih untuk menuju “Roma” saya. Memang tidak mudah untuk terus bertahan dengan “Roma” tersebut karena banyak tantangan dan juga ujian yang harus dijalani. Saya meyakini ketika saya terus dan bertahan pada “Roma” saya maka pada saatnya saya akan mendapatkan “Roma” saya tersebut.

Sekarang pertanyaanya adalah “Apakah kita sudah mempunyai Roma kita masing-masing?” dan “Seberapa besar kita ingin sampai di Roma tersebut?”. Jika kita sudah menentukan Roma kita, maka kita bisa memilih jalan mana yang akan kita tempuh untuk sampai di Roma tersebut.

Picture All Roads Lead to Rome copyright Cascade Symphony.

Twenty Five

Today is a special day for me, I am a quarter of a century old. I am so fortunate to spend the last 25 years old with the people I love, friends and families. I couldn’t imagine all the amazing things happened to me and the inspiring people I met in my 25th.

My focus will be on my education and personal life. Here’s what I am going to aim in my 25 years old (in no particular order);

Thank you for everyone who sent me birthday messages/wishes. All the best for everyone and #keepdreaming.

Last night Shilva and Agung gave me a birthday surprise. Here’s some photos from my 25th birthday surprise. 🙂

Shilva also create a photo compilation to celebrate my birthday.

Stata Tutorial: Say It with a Map

Tutorial Time: 5-10 minutes (including download shapefile data and install two Stata modules).

Yesterday I posted my travel maps via Twitter, Facebook and also Path. I just noticed that STATA re tweeted it. Some of my friends via Facebook and STATA users asked me the do-files. So I post this article to make it easy for everyone to create your own travel map.

Preparation:

  • Stata Software, I used Stata 13.0 MP
  • Install spmap: Stata module for for drawing thematic maps by Maurizio Pisati.
  • Install shp2dta: Stata module for converting shapefiles to Stata format, by Kevin Crow.
  • Shapefile: A shapefile is a data format for geographic information systems. Please download this public domain shapefile from Natural Earth: ne_110m_admin_0_countries.zip (184 KB, world map with country borders, scale 1:110,000,000) version 2.0.0
    If you want more countries data

To install spmap and shp2dta, type in your stata command:

ssc install spmap
ssc install shp2dta

Step 1: Convert shapefile to Stata format

  • Unzip ne_110m_admin_0_countries.zip to a folder that is visible to Stata. The archive contains six files:
    ne_110m_admin_0_countries.dbf
    ne_110m_admin_0_countries.prj
    ne_110m_admin_0_countries.shp –> We need this file
    ne_110m_admin_0_countries.shx
    ne_110m_admin_0_countries.README.html
    ne_110m_admin_0_countries.VERSION.txt
  • Start Stata and run this command:
    shp2dta using ne_110m_admin_0_countries, data(worlddata) coor(worldcoor) genid(id)
    

    Two new files will be created: worlddata.dta (with the country names and other information) and worldcoor.dta (with the coordinates of the country boundaries).

  • If you plan to superimpose labels on a map, for example country names, run the following command instead, which adds centroid coordinates to the file worlddata.dta (in my case I don’t use label):
    shp2dta using ne_110m_admin_0_countries, data(worlddata) coor(worldcoor) genid(id) genc(c)
    

    Please refer to the spmap documentation to learn more about labels.
    The DBF, PRJ, SHP, and SHX files are no longer needed and can be deleted.

Step 2: Create your Travel Data

  • Open worlddata.dta in Stata
    use worlddata.dta, clear
  • Generate a new variable (visited) consist of my visited countries
    You can browse your dataset first before generated your visited countries.

    bro id name

    In total I have visited 15 countries, in this case Singapore is not listed in my visited map because I use shapefile in small scale data, 1:110m (only 177 countries). You can download shapefile data in a medium scale map 1:50m or large scale map 1:10m (up to 247 countries) from Natural Earth website.

    /* name=id */
    /* UAE=4 GERMANY=42 DENMARK=44 INDONESIA=73 INDIA=74 JAPAN=83 REP.KOREA=88 MALAYSIA=112 NETHERLANDS==118 POLAND=128 SENEGAL=142 SINGAPORE=? SWEDEN=152 TURKEY=163 USA=169 */ 
    local visit 4 42 44 73 74 83 88 112 118 128 142 152 163 169
    gen visited=0
    foreach y of local visit{
        replace visited = 1 if id==`y'
    }

Step 3: Create your Map

  • Draw a map that indicates the length of all country names with this command:
    spmap visited using worldcoor.dta, id(id)

    Here’s the result:
    Figure 1

  • Change the color and remove Antartica from the map.
    Note: to change fcolor type help colorstyle in Stata command

    spmap visited using worldcoor.dta if name!="Antarctica", id(id) fcolor(Greens)

    Here’s the map:
    Figure 2

Step 4: Finalise your Map

  • To add the title, note, legend
    spmap visited using worldcoor.dta if name!="Antarctica", id(id) fcolor(Greens) ///
    title("SAY IT WITH A MAP", size(*2) color(green)) ///
    legend(label(2 "Not Yet")) legend(label(3 "Visited")) ///
    note(" ""Generated using Stata Software. Data per April 2014. www.yangkiimadesuara.com", size(*0.75)) legorder(lohi)

    Figure 3

  • If you want to change the color and also update your title?
    Right click on the Map and click Start Graph Editor. Choose which part of the map you want to edit, double click on it, edit it (color, border, etc.) and here’s the final version of my travel map. Visited countries in red, not yet visited in gold color.
    Figure 4

Here’s my complete travel map do-file.

/* YANGKI IMADE SUARA: TRAVEL MAPS version APRIL 2014 */
/* website: www.yangkiimadesuara.com */
/* email: yangki.suara@fe.unpad.ac.id */

/* STEP 1: CONVERT SHAPEFILE TO STATA FORMAT */
shp2dta using ne_110m_admin_0_countries, data(worlddata) coor(worldcoor) genid(id)

/* STEP 2: CREATE YOUR TRAVEL DATA */
use worlddata, clear
/* UAE=4 GERMANY=42 DENMARK=44 INDONESIA=73 INDIA=74 JAPAN=83 REP.KOREA=88 MALAYSIA=112 */
/* NETHERLANDS==118 POLAND=128 SENEGAL=142 SINGAPORE= SWEDEN=152 TURKEY=163 USA=169 */
local visit 4 42 44 73 74 83 88 112 118 128 142 152 163 169
gen visited=0
foreach y of local visit{
 replace visited = 1 if id==`y'
 }

/* STEP 3: DRAW YOUR MAP */
spmap visited using worldcoor.dta if name!="Antarctica", id(id) fcolor(Greens) ///
title("SAY IT WITH A MAP", size(*2) color(green)) ///
legend(label(2 "Not Yet")) legend(label(3 "Visited")) ///
note(" ""Generated using Stata Software. Data per April 2014. www.yangkiimadesuara.com", size(*0.75)) legorder(lohi)

If you have create yours, please share the link to your travel map it in the comment box and or tweet me in  @yangkiimade

References:

Updated. 2 May 2014

%d bloggers like this: